Beranda
Berita
Menuju Departemen Unggul

Menuju Departemen Unggul

Sejak berdirinya pada tahun 1964 hingga saat ini, Departemen ITP terus melakukan “continuous improvement” untuk menjadi lebih baik di dalam melaksanakan kegiatan tridharmanya. Sebagai akumulasi dari proses yang telah dilakukan, Departemen ITP dapat mencapai reputasi unggul di tingkat nasional dalam mendidik dan meluluskan sarjana, magister dan doktor di bidang ilmu dan teknologi pangan. 

Kualitas Mahasiswa dan Lulusan
Tingkat ketertarikan (attractibility) dari pelajar SMA, khususnya untuk Program Studi Teknologi Pangan, sangat tinggi yang tercermin dari jumlah calon mahasiswa yang mendaftar melalui jalur SNMPTN sangat tinggi (rasio keketatan 1:20 s/d 1:22). Jumlah mahasiswa yang diterima di Program Studi Magister Ilmu Pangan meningkat tajam dalam 3 tahun terakhir, sedangkan jumlah mahasiswa Program Studi Magister Teknologi Pangan dan Doktor Ilmu Pangan relatif sama setiap tahunnya. Hingga tahun 2013, Departemen ITP telah meluluskan lebih dari 4000 orang sarjana, 500 organg Magister dan 120 orang Doktor Ilmu Pangan, serta 100 orang Magister Teknologi Pangan. Lulusan Departemen ITP umumnya bekerja di berbagai bidang pangan di dalam dan luar negeri.

Berdasarkan pada hasil tracer study 2009-2013, mayoritas lulusan Program Studi Teknologi Pangan memperoleh pekerjaan rata-rata kurang dari 3 bulan dan yang bekerja di bidang pangan mencapai 87.9%, di antaranya bekerja di perusahaan nasional (53.4%) dan perusahaan internasional (31.6%). Lulusan Program Studi Ilmu Pangan umumnya telah bekerja sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi atau peneliti di lembaga-lembaga penelitian di Indonesia. Banyak di antara lulusan Program Studi Ilmu Pangan menjadi dosen dan peneliti yang sukses. Lulusan Program Magister Teknologi Pangan umumnya bekerja di industri pangan dan instansi pemerintah, dan sebagian besar dapat menempati jabatan/posisi strategis setelah menyelesaikan pendidikan.

Lulusan sarjana Program Studi Teknologi Pangan yang mayoritas bekerja di industri pangan telah memberikan kontribusi yang besar di dalam memajukan dan memperkuat daya saing industri pangan di Indonesia. Banyak di antara lulusan telah menempati jabatan strategis di industri pangan. Demikian juga banyak lulusan Program Magister Teknologi Pangan dapat mencapai jabatan sebagai decision maker di industri pangan dan instansi pemerintah (seperti di Badan POM), sehingga lulusan dapat berkontribusi besar di dalam menangani langsung bidang pangan nasional.

Lulusan Program Studi Ilmu Pangan yang banyak berkiprah sebagai dosen di berbagai universitas di Indonesia juga telah menjadi kepanjangan tangan dari Departemen ITP dalam menyosialisasikan dan mengembangkan pendidikan bidang ilmu dan teknologi pangan, mengurangi loss hasil-hasil pertanian, meningkatkan mutu dan keamanan pangan dan akhirnya berkontribusi dalam menyejahterakan kehidupan masyarakat.

Reputasi Nasional dan Internasional
Reputasi internasional yang telah dicapai Departemen ITP adalah perolehan status terakreditasi oleh Institute of Food Technologists (IFT) pada tahun 2010 yang telah menyetarakan Program Studi Teknologi Pangan (S1) dengan 55 program studi lain yang sejenis yang telah memperoleh status “Approved Undegraduate Program” dari IFT, serta perolehan Certificate of Approval dari International Union of Food Science and Technology (IUFoST) pada tahun 2013. Kedua institusi tersebut merupakan himpunan profesi internasional terkemuka di bidang ilmu dan teknologi pangan, sehingga status tersebut menunjukkan pengakuan internasional terhadap mutu pendidikan di Departemen ITP.

Sebagai institusi pendidikan tinggi di bidang ilmu dan teknologi pangan yang tertua di Indonesia dengan reputasi nasional dan internasional yang telah dicapai, maka peranan Departemen ITP sebagai trend setter dan leader dalam pengembangan ilmu dan teknologi pangan di Indonesia menjadi sangat penting. Di antara peranan penting yang telah diberikan oleh Departemen ITP adalah dalam penyusunan Standar Pendidikan Sarjana Teknologi Pangan yang selaras dengan KKNI oleh Perhimpunan Ahli dan Teknologi Pangan (PATPI), dimana kurikulum Program Studi Teknologi Pangan dijadikan sebagai salah satu acuan. Dengan standar pendidikan yang dikeluarkan PATPI tersebut, maka program studi yang sejenis di Indonesia secara bertahap akan mencapai mutu yang meningkat dan setara, sekaligus dipersiapkan untuk dapat memperoleh pengakuan internasional dari IFT. Hal tersebut akan mendorong program studi teknologi pangan di Indonesia untuk meningkatkan daya saing lulusannya di dunia kerja.

Peranan Departemen ITP di tingkat nasional juga ditunjukkan melalui kegiatan penelitian dan pengabdian pada masyarakat. Penelitian yang telah dilakukan Departemen ITP umumnya terkait dengan pemanfaatan sumber pangan lokal yang dapat berkontribusi dalam mendukung program diversifikasi pangan, ketahanan dan keamanan pangan nasional. Kegiatan pengabdian pada masyarakat di antaranya dilaksanakan dalam bentuk sumbangan pemikiran terkait kebijakan dan regulasi pangan nasional, kegiatan pelatihan bagi industri pangan dan instansi pemerintah, diseminasi hasil-hasil penelitian ke masyarakat, dsb.

Hal tersebut di atas menjadi kekuatan bagi Departemen ITP untuk menjadi institusi pendidikan di bidang llmu dan teknologi pangan yang unggul dan terkemuka di Indonesia, dan mengangkat reputasi Departemen ITP di tingkat internasional. Dengan kekuatan yang dimiliki tersebut, Departemen ITP ditantang untuk membangun lingkungan akademis yang mampu memfasilitasi semua pemangku kepentingan (dosen, mahasiswa, alumni, tenaga kependidikan dan pengguna) untuk bisa mengembangkan potensi yang dimilikinya untuk kemajuan bersama.

Reputasi nasional dan internasional juga ditunjukkan oleh mahasiswa Departemen ITP, di antaranya di dalam seleksi mahasiswa berprestasi, PKM, dan kompetisi internasional Developing Solution for Developing Countries (DSDC) yang diselenggarakan oleh Institute of Food Technologists Student Association (IFTSA) di Amerika Serikat, Global Student New Product Development Competition yang diselenggarakan oleh IUFoST di Canada, dan Food Bowl Quiz yang diselenggarakan oleh The Federation of the Institutes of Food Science and Technology in ASEAN (FIFSTA). Selama periode 2009-2013, mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan berpartisipasi aktif dalam kompetisi DSDC-IFTSA, dan hampir setiap tahun menjadi finalis dan juara di dalam ajang kompetisi internasional tersebut. Di tingkat Pascasarjana, beberapa mahasiswa melaksanakan riset di universitas termuka di luar negeri melalui kerjasama dosen, departemen dengan atau tanpa dukungan hibah dari Kemendikbud. Selama 2012-2013 tercatat 9 orang mahasiswa mengikuti program tersebut.

Kualitas Sumberdaya Manusia dan Fasilitas
Departemen ITP didukung oleh sumberdaya yang memadai, baik tenaga pendidik maupun fasilitas laboratorium yang dimiliki. Jumlah dosen tetap Departemen ITP hingga tahun 2013 adalah 50 orang yang terdiri dari 42 orang bergelar Doktor (16 orang di antaranya adalah Guru Besar) dan 3 orang Guru Besar Emeritus. Hubungan kemitraan yang baik dengan SEAFAST Center sebagai “sister institution” memberikan dukungan yang besar bagi pengembangan Departemen ITP, di antaranya di dalam pemanfaatan fasilitas pilot plant proses pengolahan pangan di SEAFAST Center dalam mendukung kegiatan pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat.

Dosen di Departemen ITP memiliki produktivitas penelitian yang cukup tinggi dan dengan fokus penelitian di bidang ketahanan pangan dan keamanan pangan yang relevan dengan kebutuhan nasional. Selama periode 2009-2013, hibah-hibah penelitian yang diperoleh oleh staf pengajar Departemen ITP relatif banyak, demikian juga jumlah publikasi internasional yang terindeks di scopus juga meningkat dalam 5 tahun terakhir.

Jejaring Nasional dan Internasional
Jejaring nasional dan internasional juga telah dibangun untuk memberikan manfaat bagi pengembangan Departemen ITP. Jejaring nasional dengan industri pangan, perguruan tinggi sejenis dan institusi pemerintah sudah sangat baik. Jejaring internasional yang telah dibangun di antaranya adalah keanggotaan Departemen ITP dalam Monitoring Quality of Assurance (MoniQA) Network dengan Uni Eropa. Dalam 5 tahun terakhir, Departemen ITP juga berpartisipasi aktif dalam ASEAN International Mobility for Students (AIMS) yang bekerjasama dengan universitas di Thailand (Mae Fah Luang University, Katssessart University, dan Prince Sonkla University), Malaysia (Universiti Teknologi Mara, Universiti Sains Malaysia, dan Universiti Putra Malayasia), Vietnam (Nong Lam University) dan Jepang (Sophia University, Kagawa University, Ibaraki University dan Tokyo University of Agriculture and Technology). Dalam periode 2010-2013, sebanyak 60 orang mahasiswa S1 Program Studi Teknologi Pangan IPB (outbound students) dan 42 orang mahasiswa asing dari universitas mitra di kawasan ASEAN (inbound students) telah mengikuti student exchange program melalui program AIMS. Kerjasama internasional juga telah dijalin dengan National University of Singapore (NUS) dalam penyelenggaraan program summer school dan dengan Curtin University dalam pengembangan Joint Degree Program untuk Program Studi Ilmu Pangan.

Untuk menjadi institusi pendidikan yang memiliki reputasi internasional sesuai visi Departemen, maka indikator-indikator capaian di bidang tridarma yang mengarah pada internasionalisasi sangat diperhatikan. Penyelenggaraan kegiatan pendidikan mengarah pada standar internasional, seperti penerapan kurikulum berbasis kompetensi yang selaras dengan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), jumlah mahasiswa asing, pelayanan akademik bermutu tinggi, tenaga kependidikan yang handal dan profesional, dan sistem informasi yang mudah diakses oleh pemangku kepentingan dalam dan luar negeri.

Tantangan
Tantangan yang dihadapi oleh lulusan Departemen ITP akan sangat berbeda dibandingkan dengan tantangan beberapa dekade yang lalu, terutama di era ASEAN Economic Community yang akan dimulai pada tahun 2015. Peluang kerja yang ada saat ini akan menjadi rebutan dari berbagai perguruan tinggi dari dalam dan luar negeri. Tekanan globalisasi pendidikan dalam persaingan di tingkat nasional, regional dan internasional menuntut Departemen ITP untuk mampu menyelenggarakan pendidikan yang bermutu dan menghasilkan lulusan yang lebih berdaya saing di pasar tenaga kerja dan memiliki jiwa wirausaha. Oleh karena itu, kualifikasi lulusan yang dibutuhkan oleh pengguna lulusan harus dipertimbangkan di dalam penyusunan kurikulum serta penguatan aspek success skills yang terintegrasi dalam kurikulum dan kegiatan ekstra-kurikuler juga harus mendapat perhatian. Persentase lulusan yang bekerja sesuai bidang harus terus ditingkatkan dengan penguatan kompetensi yang dibutuhkan pengguna sehingga para lulusan memiliki daya saing yang tinggi di dunia kerja. Isu-isu global yang terkait dengan masalah ketahanan pangan, keamanan pangan, gizi, dan kesehatan juga sangat penting untuk diperhatikan dalam pengembangan pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat.

Hal yang perlu diantisipasi adalah persaingan memperoleh calon mahasiswa yang bermutu sebagai akibat perubahan sistem penerimaan mahasiswa baru dari sistem Ujian Seleksi Masuk IPB (USMI) yang menjadi ciri khas IPB menjadi Seleksi Nasional Mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dan Seleksi Bersama Mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) yang berlaku secara nasional. Perubahan sistem penerimaan mahasiswa melalui jalur undangan secara nasional ini berpeluang besar bagi pelajar SMA yang berprestasi untuk memilih perguruan tinggi selain IPB, sehingga dapat mengancam penurunan mutu dan jumlah pelamar ke Departemen ITP. Kerjasama dengan swasta dan pemerintah juga perlu ditingkatkan untuk menjaring calon mahasiswa program pascasarjana yang bermutu. Kebijakan pemerintah yang terkait dengan kewajiban publikasi ilmiah sebagai persyaratan kelulusan bagi mahasiswa program pascasarjana harus juga menjadi perhatian di dalam pengembangan kurikulum program pascasarjana.

Untuk menjadi institusi pendidikan yang memiliki reputasi internasional sesuai visi Departemen, maka indikator-indikator capaian di bidang tridarma yang mengarah pada internasionalisasi sangat diperhatikan. Penyelenggaraan kegiatan pendidikan mengarah pada standar internasional, seperti penerapan kurikulum berbasis kompetensi (competence-based curriculum), jumlah mahasiswa asing, pelayanan akademik bermutu tinggi, tenaga kependidikan yang handal dan profesional, dan sistem informasi yang mudah diakses oleh pemangku kepentingan dalam dan luar negeri. Staf di Departemen ITP memiliki produktivitas penelitian yang cukup tinggi dan dengan fokus penelitian di bidang ketahanan pangan dan keamanan pangan yang relevan dengan kebutuhan nasional. Selama 5 tahun terakhir (2008-2013), hibah-hibah penelitian yang diperoleh oleh staf pengajar Departemen ITP cukup banyak, namun jumlah publikasi internasional dan publikasi yang terindeks di scopus yang merupakan ukuran internasionalisasi masih belum sebanding dengan jumlah staf pengajar yang ada. Kemampuan menjalin jejaring kerjasama penelitian dengan institusi internasional juga menjadi tolok ukur yang penting dari proses internasionalisasi Departemen ITP.

Berbagai peluang yang perlu dimanfaatkan dalam pengembangan Departemen di antaranya adalah pendidikan S2 menjadi persyaratan minimal untuk diangkat sebagai dosen di perguruan tinggi. Peluang ini perlu dimanfaatkan untuk meningkatkan minat lulusan S1 untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan S2. Jumlah kesempatan beasiswa yang disediakan pemerintah juga dapat mendorong minat lulusan S1 untuk melanjutkan pendidikan ke S2. Berbagai sumber dana penelitian yang tersedia, baik dari pemerintah maupun swasta juga membuka peluang meningkatkan jumlah dan mutu penelitian, yang dalam pelaksanaannya dapat melibatkan mahasiswa program sarjana dan pascasarjana. Berbagai peluang kerjasama internasional di bidang tridarma dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk pengembangan Departemen ITP dan exposure mahasiswa pada lingkungan internasional.

Di antara kelemahan yang masih perlu diatasi adalah masa studi untuk seluruh jenjang pendidikan yang masih melebihi standar akreditasi. Hal ini terutama terkait dengan masa penyelesaian tugas akhir/tesis/disertasi yang lebih lama dari yang semestinya. Oleh karena itu, perumusan skema tugas akhir/tesis/disertasi untuk setiap jenjang pendidikan dievaluasi dan sistem monitoring penyelesaian tugas akhir/tesis/disertasi ditingkatkan, di samping juga memfasilitasi dosen dan mahasiswa untuk memperoleh sumber dana penelitian, perbaikan fasilitas untuk mendukung kegiatan penelitian, serta mendorong kerjasama penelitian dengan berbagai institusi dalam dan luar negeri. Dukungan tenaga kependidikan yang profesional dan berdedikasi tinggi juga sangat penting, sehingga peningkatan kompetensi teknis tenaga kependidikan perlu mendapat perhatian.