Home
News
Menuju Program Studi Teknologi Pangan Unggul dan Berdaya Saing Global

Menuju Program Studi Teknologi Pangan Unggul dan Berdaya Saing Global

Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor (FATETA-IPB) menyelenggarakan pendidikan tinggi sarjana di bidang ilmu dan teknologi pangan. Program Studi (PS) Teknologi Pangan bertujuan untuk menghasilkan lulusan sarjana yang memiliki kompetensi dalam “merancang proses penambahan nilai terhadap bahan pangan berdasarkan pada prinsip ilmu pangan dengan memadukan berbagai unit operasi untuk menghasilkan produk pangan yang aman dan bermutu. Dengan kompetensi tersebut, lulusan PS Teknologi dapat mengisi lapangan pekerjaan di industri pangan dan bidang pekerjaan lain yang terkait dengan rantai proses produksi pangan.

PS Teknologi Pangan memiliki visi untuk menghasilkan sarjana teknologi pangan yang kompeten dan berdaya saing secara internasional”. Visi tersebut sangat relevan dengan tantangan bangsa Indonesia dalam menyediakan sumberdaya manusia yang berkualitas, kompeten di bidangnya dan memiliki daya saing yang tinggi untuk menghadapi persaingan global. Tantangan terdekat yang dihadapi adalah diberlakukannya ASEAN Economic Community (AEC) tahun 2015, dimana di antaranya Indonesia akan menghadapi mobilitas tenaga kerja terampil (skilled labour) dari negara-negara ASEAN. Hal ini berarti bahwa lulusan PS Teknologi Pangan akan menghadapi pesaing baru dari lulusan perguruan tinggi di kawasan ASEAN dalam memperebutkan lapangan kerja yang tersedia.

Untuk mewujudkan visi “internasional” dan mempersiapkan lulusan dalam menghadapi tantangan global, kurikulum PS Teknologi Pangan mengacu standar kompetensi yang direkomendasikan oleh Institute of Food Technologists (IFT), Amerika Serikat (http://www.ift.org). Hal ini berbuah pada keberhasilan PS Teknologi Pangan memperoleh pengakuan internasional dari IFT tahun 2010. PS Teknologi Pangan merupakan program studi yang pertama di luar Amerika Utara yang memperoleh status “approved undergraduate program” dari IFT. Dengan diperolehnya pengakuan internasional tersebut, PS Teknologi Pangan telah setara dengan 55 program studi teknologi pangan lain dari universitas di Amerika Utara dan negara lainnya yang telah memperoleh status yang sama.

Sementara itu, dalam mempersiapkan sumberdaya manusia yang kompeten dan berdaya saing global, pemerintah mengeluarkan  Peraturan  Presiden  (Perpres)  Nomor  8  Tahun  2012 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). KKNI menetapkan sembilan jenjang kualifikasi kompetensi sumberdaya manusia, dimana lulusan program pendidikan sarjana berada pada jenjang enam. Kualifikasi yang dimaksud mencakup kompetensi kerja spesifik, pengetahuan spesifik yang harus dikuasai, dan kemampuan manajerial yang sesuai wewenang dan tanggung jawabnya. Khususnya untuk pendidikan tinggi, pemerintah mengeluarkan Permendikbud Nomor 73 Tahun 2013 tentang Penerapan KKNI Bidang Pendidikan Tinggi. Permendikbud tersebut mewajibkan setiap program studi untuk menetapkan kompetensi lulusan dan capaian pembelajaran minimal yang mengacu pada KKNI bidang pendidikan tinggi yang sesuai dengan jenjangnya; serta menyusun kurikulum, mengimplementasikan dan mengevaluasinya. Permendikbud tersebut juga mewajibkan perguruan tinggi untuk menerbitkan Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI) yang berisi uraian kompetensi dan capaian pembelajaran dari lulusan.

Deskripsi kompetensi dalam KKNI memberikan rambu-rambu yang harus dipenuhi oleh PS Teknologi Pangan agar lulusannya mencapai kualifikasi yang sesuai dengan jenjangnya. Di samping itu, sebagai program studi yang telah memperoleh pengakuan internasional, standar kompetensi dari IFT juga harus tetap diterapkan dalam proses pendidikan. Oleh karena itu, kedua kepentingan tersebut harus dapat diimplementasikan secara sinergis dengan mengembangkan berbagai program kreatif dan inovatif yang dapat berdampak pada peningkatan kompetensi dan daya saing global dari lulusan.

KKNI yang telah diberlakukan oleh pemerintah harus menjadi acuan bagi program studi agar proses pendidikan yang dilaksanakan mampu menghasilkan lulusan yang sesuai dengan jenjang kualifikasinya. Deskripsi kompetensi dalam KKNI masih bersifat umum sehingga perlu dirumuskan secara spesifik ke dalam rumusan kompetensi lulusan, capaian pembelajaran, struktur kurikulum program studi, dan diimplementasikan di dalam proses pendidikan. KKNI masih merupakan informasi yang baru bagi kebanyakan dosen dan mahasiswa, serta belum tersedia panduan teknis dan contoh nyata bagaimana KKNI diterapkan di dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi. PS Teknologi Pangan yang telah terakreditasi internasional juga dituntut untuk menerapkan pendidikan yang dapat memenuhi standar IFT. Dengan demikian, upaya inisiatif dan inovatif yang dapat menyelaraskan KKNI dan standar IFT dalam proses pendidikan merupakan langkah yang harus ditempuh agar program studi dapat menghasilkan lulusan yang kompeten dan berdaya saing global. 

Harmonisasi KKNI dan Standar IFT

Seperti dijelaskan di atas, KKNI mendeskripsikan tiga aspek kompetensi untuk masing-masing jenjang kualifikasi. Berdasarkan deskripsi umum kompetensi KKNI tersebut, kompetensi yang spesifik dengan program studi harus dirumuskan. Sementara itu, IFT juga menetapkan ranah kompetensi dan capaian pembelajaran yang harus dicakup oleh program studi. Oleh karena itu, upaya untuk menyelaraskan KKNI dan standar pendidikan IFT dilakukan sebagai langkah awal dalam proses evaluasi kurikulum secara menyeluruh, sehingga dua kepentingan tersebut dapat dipenuhi.

Berdasarkan hasil lokakarya akademik yang melibatkan seluruh dosen PS Teknologi Pangan dan mempertimbangkan masukan dari pemangku kepentingan, kompetensi lulusan berdasarkan tiga aspek KKNI dapat dirumuskan. Selanjutnya, ranah kompetensi inti dari standar IFT dan 48 capaian pembelajaran program studi dikelompokkan berdasarkan tiga aspek kompetensi dalam KKNI tersebutBerdasarkan capaian pembelajaran tersebut, bahan kajian dievaluasi dan didistribusikan dalam matakuliah sehingga seluruh matakuliah secara jelas berkontribusi terhadap capaian pembelajaran. Kontribusi setiap matakuliah terhadap capaian pembelajaran diperlihatkan dalam bentuk peta kompetensi. Perangkat penilaian untuk mengukur capaian belajar mahasiswa juga ditetapkan. Proses yang dilaksanakan tersebut menghasilkan kurikulum PS Teknologi Pangan yang memenuhi aspek kompetensi dalam KKNI dan standar IFT. Kurikulum hasil revisi tersebut mulai diterapkan pada tahun ajaran 2012/ 2013.

Penerapan Kurikulum Berbasis KKNI

Sebagai tindak lanjut dari pemberlakuan kurikulum tersebut, seluruh dosen dilibatkan untuk merevisi silabus matakuliah, terutama untuk memastikan capaian pembelajaran yang dimandatkan dicakup, dan capaian belajar mahasiswa dinilai dengan cara yang sesuai dan bervariasi (tidak hanya dari nilai ujian tertulis). Khusus aspek kecakapan hidup yang merupakan salah  satu  kompetensi  inti, rubrik penilaian diterapkan dalam matakuliah  agar  dosen  dapat  menilai  lebih   obyektif.  Proses evaluasi dan revisi silabus melibatkan seluruh dosen matakuliah melalui mekanisme focus group discussion yang dipimpin oleh masing-masing Kepala Bagian.

Program Studi harus dapat memastikan bahwa silabus matakuliah yang telah disepakati dilaksanakan dalam perkuliahan dan praktikum. Oleh karena itu, dikembangkan gagasan untuk menerapkan mekanisme evaluasi internal matakuliah oleh dosen sejawat (peer review). Evaluasi internal terutama ditujukan untuk memastikan setiap matakuliah telah menerapkan capaian pembelajaran yang menjadi mandatnya, dan dosen menilai capaian belajar mahasiswa dengan cara yang sesuai. Evaluasi dilaksanakan dengan menelaah dan membadingkan dokumen bahan ajar, perangkat penilaian dan hasil belajar dengan silabus. Proses evaluasi setiap matakuliah dilakukan setiap akhir tahun ajaran oleh dua orang dosen lain yang tidak mengajar pada matakuliah tersebut. Hasil evaluasi ini menjadi bahan masukan bagi tim dosen untuk melakukan perbaikan dan mengimplementasikannya pada tahun ajaran berikutnya.

Untuk menerapkan tiga aspek kompetensi dalam KKNI secara terintegrasi, matakuliah Praktikum Terpadu Pengolahan Pangan digunakan sebagai wahananya. Dalam praktikum ini, kelompok mahasiswa (25-30 orang per kelompok) mengelola lini proses pengolahan pangan pada skala pilot plant secara mandiri dalam bentuk model perusahaan. Mahasiswa menerapkan prinsip-prinsip ilmu pangan yang telah dipelajarinya secara komprehensif dalam kehidupan nyata, mulai dari tahap merencanakan pendirian dan mengelola perusahaan, memproduksi, menerapkan sistem jaminan mutu dan keamanan pangan, serta merencanakan dan memasarkan produknya. Matakuliah ini sangat berkontribusi pada pencapaian aspek kompetensi dalam KKNI, dimana mahasiswa diasah kemampuan analisis, pemecahan masalah prosedural, pengambilan keputusan secara tepat dan mandiri, beradaptasi dengan lingkungan yang dihadapi, dan bertanggung jawab secara mandiri dalam pencapaian kinerja organisasi perusahaan yang dijalankan. Mahasiswa yang lulus dalam matakuliah ini memperoleh sertifikat yang menjelaskan materi dan kompetensi yang dicapai.

Aspek-aspek KKNI (kompetensi lulusan dan capaian pembelajaran) juga harus dipahami oleh setiap mahasiswa sebagai objek utama proses pembelajaran. Penjelasan mengenai hal tersebut selalu diberikan kepada mahasiswa baru. Namun demikian, sosialisasi saja tidak mencukupi, yang terpenting adalah proses internalisasi yang dapat mengubah paradigma belajar mahasiswa yang berorientasi pada pencapaian kompetensi. Oleh karena itu, inisiatif untuk mengembangkan mekanisme penilaian diri (self-assessment) oleh mahasiswa dikembangkandimana mahasiswa menilai diri sendiri atas kemajuan capaian belajarnya dengan mengisi kuesioner. Penilaian diri dilakukan setiap tahun, sejak mahasiswa masuk (semester 1) hingga menjelang lulus (saat ujian sidang sarjana). Hasil penilaian diri oleh mahasiswa tersebut diolah dan datanya menjadi masukan bagi program studi untuk melakukan tindakan perbaikan sejak dini dalam proses pembelajaran, terutama pada aspek capaian pembelajaran yang secara umum dinilai masih rendah oleh mahasiswa. Saat sidang ujian sarjana, dosen memverifikasi aspek capaian pembelajaran yang masih dinilai lemah oleh mahasiswa, dan membantu mahasiswa agar lebih memahami dan percaya diri terhadap pencapaian kompetensi di akhir masa studinya.

Dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi persaingan global, program studi mengintensifkan program pertukaran mahasiswa dengan universitas di luar negeri, terutama  di ASEAN dan Jepang dalam payung international mobility for students. Mahasiswa dapat mengambil kuliah sebagai credit earning atau melaksanakan penelitian/ magang untuk tugas akhir. Untuk itu, sejak tahun 2011 dibentuk tim yang beranggotakan dosen dan tenaga kependidikan yang bertanggung jawab dalam proses inisiasi dan penguatan kerjasama dengan universitas mitra, melakukan sosialisasi kepada mahasiswa, serta proses seleksi dan pembinaan keberangkatan mahasiswa. Tim ini juga bertanggung jawab dalam menangani dan melayani mahasiswa asing yang datang, termasuk mempersiapkan dosen untuk mengajar dalam bahasa Inggris dan terlibat dalam proses pembimbingan tugas akhir mahasiswa asing. Selama periode 2010-2014, sebanyak 83 orang mahasiswa PS Teknologi Pangan dan 78 orang mahasiswa asing dari ASEAN dan Jepang mengikuti program tersebut.

Di antara aspek kompetensi dalam KKNI yang harus dipenuhi adalah kemampuan manajerial yang sesuai wewenang dan tanggung jawabnya. Kompetensi ini sangat terkait dengan kecakapan hidup mahasiswa, dan merupakan aspek yang sangat penting dalam meningkatkan daya saing dan kinerja lulusan di dunia kerja. Aspek kecakapan hidup juga merupakan ranah kompetensi yang harus dipenuhi dalam standar IFT dan termasuk dalam ranah capaian pembelajaran program studi. Di samping dicakup dan terdistribusi dalam matakuliah, peningkatan kecakapan hidup juga dilakukan melalui kegiatan ko- dan ekstra-kurikuler. Sejak tahun 2013 mahasiswa diwajibkan untuk mengikuti kegiatan ko- dan ekstra-kurikuler minimal dan menjadikannya sebagai persyaratan mengikuti sidang ujian sarjana. Hal ini juga dapat memotivasi mahasiswa untuk meningkatkan kemampuan kecakapan hidup  dan  lebih  bertalenta.  Sebagai apresiasi atas partisipasi mahasiswa dalam kegiatan non-akademik, diterbitkan Transkrip Ko- dan Ekstra-kurikuler yang berisi uraian dan penilaian kegiatan ko- dan ekstra-kurikuler yang telah diikuti oleh mahasiswa selama studinya. Transkrip ini menjadi informasi bagi stakeholder (terutama pengguna lulusan) mengenai kegiatan non-akademik dari lulusan selama studi, karena aspek kecakapan hidup sering menjadi kriteria penilaian dalam proses rekrutmen tenaga kerja.

Sesuai Permendikbud Nomor 73 Tahun 2013, program studi menerbitkan Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI) dalam versi bahasa Indonesia dan Inggris. SKPI menginformasikan kompetensi dan capaian pembelajaran dari lulusan kepada stakeholder di dalam dan luar negeri. Penilaian diri oleh mahasiswa sebagaimana telah dijelaskan menjadi bagian dari proses penerbitan SKPI, karena dapat menjamin bahwa lulusan percaya diri atas pernyataan kompetensi dalam SKPI tersebut.

Upaya Menjadi Program Studi Unggul

Gagasan dan inisiatif yang dilakukan sebagaimana dipaparkan di atas merupakan upaya agar capaian pembelajaran (learning outcomes) menjadi motor penggerak di dalam penyelenggaraan pendidikan di program studi. Oleh karena itu, evaluasi rumusan kompetensi dan capaian pembelajaran merupakan langkah awal yang dilakukan. Capaian pembelajaran ini merupakan rincian kompetensi dari lulusan yang dihasilkan, dan menjadi dasar dalam menetapkan bahan kajian, struktur matakuliah, metode pembelajaran dan perangkat penilaian yang kemudian didokumentasikan dalam silabus matakuliah.

Bagaimana KKNI diterapkan dalam matakuliah dan bagaimana capaian pembelajaran dalam matakuliah dicakup dan dinilai dengan cara yang sesuai perlu terus disosialisikan. Bila hal tersebut tidak diterapkan, dapat berpotensi pada tidak tercapainya kompetensi belajar mahasiswa. Oleh karena itu, evaluasi internal dengan melibatkan dosen sejawat untuk mengetahui implementasi silabus matakuliah dalam proses pembelajaran dipilih sebagai mekanisme yang tepat. Proses evaluasi oleh dosen sejawat yang dikembangkan juga membangun budaya baru di PS Teknologi Pangan, yaitu dosen matakuliah lebih terbuka untuk dievaluasi dalam rangka meningkatkan kualitas pengajarannya berdasarkan masukan dosen lain.

Program inisiatif sebagai respon terhadap Permendibud no. 73 Tahun 2013 dalam bentuk proses penerbitan SKPI sesuai KKNI oleh program studi merupakan yang pertama dilakukan di IPB. Model penilaian diri sebagai rangkaian proses penerbitan SKPI menjadi perangkat bagi program studi untuk mengetahui  seberapa  jauh  mahasiswa  percaya diri terhadap pencapaian  kompetensinya. Proses penilaian  diri juga penting dalam rangka internalisasi pemahaman mahasiswa terhadap 48 capaian pembelajaran, sehingga dapat mendorong mahasiswa untuk mencapainya selama masa studinya. Proses penilaian diri ini juga membangun paradigma baru dimana mahasiswa terlibat di dalam mengukur capaian kompetensinya secara bertahap. Data olah dari hasil pengisian kuesioner penilaian diri memperlihatkan kepercayaan diri mahasiswa yang meningkat terhadap capaian belajarnya dengan bertambahnya jenjang semester. Data tersebut juga menjadi informasi yang berharga bagi program studi untuk melakukan tindakan perbaikan terhadap proses pendidikannya sejak dini (early warning system), terutama pada aspek capaian pembelajaran yang masih dinilai rendah oleh mahasiswa.

Aspek kecakapan hidup, seperti kemampuan komunikasi secara lisan dan tulisan, kemampuan bekerja dalam tim, daya analisis dan adaptasi, kepemimpinan, dsb sangat penting. Kurikulum yang diterapkan telah mencakup aspek kecakapan hidup dalam matakuliah. Aspek kecakapan menjadi salah satu kriteria dalam penilaian akhir matakuliah. Rubrik penilaian yang dikembangkan pada setiap matakuliah membantu dosen untuk menilai kecakapan hidup secara lebih obyektif.

Peningkatan kecakapan hidup tidak cukup diberikan di matakuliah, tetapi juga dilakukan melalui partisipasi mahasiswa dalam kegiatan ko- dan ekstra-kurikuler. Oleh karena itu, program studi menetapkan agar setiap mahasiswa pernah terlibat dalam kegiatan ko- dan ekstra-kurikuler dan menjadikannya sebagai persyaratan untuk mengikuti sidang ujian sarjana. Hal ini mendorong partisipasi mahasiswa yang meningkat dalam berbagai kegiatan ko- dan ekstra-kurikuler. Berdasarkan data Transkrip Ko- dan Ekstra-kurikuler yang telah diterbitkan, sebanyak 60% mahasiswa mengikuti kegiatan ko- dan ekstra-kurikuler dengan kategori “baik”. Hal ini juga berdampak pada capaian prestasi mahasiswa PS Teknologi Pangan di berbagai kompetisi di tingkat nasional dan internasional, di antaranya sebagai mahasiswa berprestasi I tingkat nasional (2011), dan juara kompetisi internasional tahunan “Developing Solution for Developing Countries” yang diselenggarakan oleh IFT Student Association (2012-2014).

Praktek baik dan gagasan inisiatif inovatif yang dilakukan dalam  pengelolaan  pendidikan  di  PS  Teknologi  Pangan pada akhirnya dinilai dari kinerja lulusan di dunia kerja. Oleh karena itu, studi pelacakan terhadap lulusan dan pengguna lulusan menjadi sangat penting. Dengan dibantu oleh tenaga administrasi akademik, program studi melakukan survei terhadap lulusan baru setiap tahun, terutama untuk memperoleh data waktu tunggu kerja, dan jenis/bidang pekerjaan. Waktu tunggu kerja merupakan indikator daya saing lulusan di dunia kerja, sedangkan jenis/bidang pekerjaan merupakan indikator kesesuaian dan relevansi program pendidikan dengan dunia kerja. Survei yang dilakukan terhadap lulusan 2011-2014 menunjukkan waktu tunggu untuk memperoleh pekerjaan pertama berkisar 1.4-2.7 bulan dan persentase lulusan yang bekerja di bidang pangan mencapai 88.1%, di antaranya 32% bekerja di perusahaan multinasional. Bahkan hasil survei terhadap lulusan tahun 2013-2014 menunjukkan 92.6% bekerja di bidang pangan (n=143). Hal ini menunjukkan bahwa program pendidikan yang dilaksanakan oleh PS Teknologi Pangan berdampak pada daya saing lulusan di dunia kerja, termasuk di pasar kerja global.

Pengakuan Nasional dan Internasional

Proses yang dilaksanakan dalam rangka menerapkan kurikulum berbasis KKNI dan standar pendidikan yang direkomendasikan oleh IFT telah memperoleh pengakuan dan apresiasi dari berbagai pihak di tingkat nasional dan internasional.

Di tingkat nasional, KKNI menjadi bahasan penting di seminar/lokakarya nasional yang diselenggarakan oleh  Forum Komunikasi Pendidikan Tinggi Teknologi Pertanian (FK-PTTP) dan Perhimpunan Ahli Teknologi Pertanian (PATPI) selama periode 2012-2013. Hal ini karena program studi teknologi pangan/hasil pertanian di seluruh Indonesia perlu menyesuaikan kurikulumnya dengan KKNI.

Kurikulum berbasis KKNI yang telah dikembangkan oleh PS Teknologi Pangan IPB telah dipresentasikan dalam seminar/ lokakarya nasional. Praktek baik yang diterapkan oleh PS Teknologi Pangan mendorong Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI) untuk menyusun standar kompetensi teknologi pangan/teknologi hasil pertanian berbasis KKNI. Pada tahun 2013, Ketua PATPI membentuk Tim Perumus untuk menyusun standar pendidikan teknologi pangan/teknologi hasil pertanian. Dalam standar PATPI tersebut, rumusan kompetensi dan capaian pembelajaran program studi banyak mengacu pada kurikulum PS Teknologi Pangan IPB. Standar pendidikan PATPI menjadi acuan resmi bagi program studi teknologi pangan/teknologi hasil pertanian di seluruh Indonesia untuk menyusun dan merevisi kurikulum pendidikannya. Informasi mengenai standar pendidikan PATPI ini juga telah dipublikasikan di Food Asia Pasific Journal (volume 1, September 2014).

Di tingkat internasional, praktek baik yang telah dilakukan juga memperoleh apresiasi. Hasil proses evaluasi internal terhadap capaian pembelajaran dalam matakuliah dilaporkan dalam “Assessment Progress Report” tahun 2012 dan 2013 ke IFT. Higher Education Review Board (HERB-IFT) memberikan penilaian “developed” untuk seluruh kriteria.

Pada tahun 2013, PS Teknologi Pangan mengajukan akreditasi internasional ke IUFoST yang merupakan asosiasi profesi internasional yang beranggotakan himpunan profesi ilmu dan teknologi pangan di seluruh dunia. Berdasarkan hasil asesmen oleh IUFoST, PS Teknologi Pangan memperoleh “Certificate of Approval” yang merupakan pengakuan internasional terhadap program studi karena telah memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh IUFoST. Di antara kriteria penilaian dari IUFoST adalah bagaimana proses pendidikan di PS Teknologi Pangan dapat menjamin pencapaian kompetensi yang telah ditetapkan, serta bagaimana kinerja lulusan di dunia kerja.

Pengakuan internasional terhadap PS Teknologi Pangan juga terlihat dari peningkatan jumlah universitas mitra di luar negeri yang bekerjasama dalam international mobility for students program, yaitu dari tiga universitas tahun 2010 menjadi 14 universitas tahun 2014, yaitu dari Malaysia (UPM, USM, UiTM, UKM) , Vietnam (Nong Lang University), Thailand (PSU, KSU, MFU), dan Jepang (Sophia University, Ibaraki University, Tsukuba University, TUAT, Kagawa University) dan Singapura (National University of Singapore). Jumlah mahasiswa outbound dan inbound yang berpartisipasi dalam program tersebut juga meningkat. Peningkatan jumlah mahasiswa inbound juga berdampak pada peningkatan jumlah matakuliah berbahasa Inggris yang diikuti oleh mahasiswa asing. Diharapkan capaian kinerja tersebut dapat ditingkatkan lagi pada tahun 2015.

(Feri Kusnandar, Ketua Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, FATETA-IPB)

Tags: